Kembalinya Donald Trump ke panggung politik global, terutama dalam isu Timur Tengah, menghadirkan dinamika yang unik. Pasca tercapainya gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hamas pada 26 September 2025, fokus beralih pada fase stabilisasi dan pembicaraan jangka panjang. Dalam konteks ini, Upaya Diplomasi Amerika Serikat yang dipersonalisasi oleh sosok Trump sangat menonjol. Meskipun tidak menjabat sebagai Presiden saat ini, pengaruhnya yang signifikan di kalangan elit politik Israel dan negara-negara Arab sekutu AS memungkinkan ia memainkan peran back-channel diplomacy yang tidak dapat dilakukan oleh saluran resmi Departemen Luar Negeri.
Peran Trump dalam fase pasca-gencatan senjata ini dilaporkan fokus pada dua agenda utama: pertama, memastikan kepatuhan Israel dan Hamas terhadap kesepakatan yang ada, dan kedua, meletakkan dasar bagi perluasan Perjanjian Abraham. Sumber dari lingkaran diplomatik di Washington menyebutkan bahwa Trump telah melakukan 3 kali panggilan telepon terpisah dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi dalam kurun waktu 10 hari setelah gencatan senjata disepakati. Tujuannya adalah mendorong Netanyahu untuk mematuhi klausul bantuan kemanusiaan dan mendesak Arab Saudi untuk mempercepat normalisasi hubungan dengan Israel, sebuah langkah yang dapat secara fundamental mengubah keseimbangan kekuasaan regional.
Upaya Diplomasi Amerika Serikat melalui saluran non-pemerintah ini memanfaatkan kepercayaan personal yang dibangun Trump selama masa kepresidenannya. Tidak seperti diplomasi formal yang terikat prosedur, intervensi Trump bersifat ad hoc dan cepat, memungkinkan penyampaian pesan yang lebih langsung dan tanpa filter birokrasi. Namun, hal ini juga memicu kontroversi. Beberapa kritikus berpendapat bahwa intervensi pihak non-pemerintah dapat mengikis kredibilitas saluran resmi dan berpotensi menimbulkan kebingungan bagi mitra diplomatik AS. Walau demikian, Menteri Luar Negeri AS saat ini dilaporkan memberikan izin diam-diam untuk Upaya Diplomasi Amerika Serikat ini, mengakui bahwa pengaruh unik Trump dapat menjadi aset dalam situasi yang sangat buntu.
Salah satu hasil yang diharapkan dari pengaruh Trump adalah memastikan dukungan finansial regional untuk rekonstruksi Gaza. Analisis menunjukkan bahwa setidaknya US$5 miliar diperlukan untuk pembangunan kembali infrastruktur dasar. Trump dilaporkan sedang memfasilitasi janji pendanaan awal dari Uni Emirat Arab (UEA) sebesar US$1 miliar, yang akan diumumkan pada konferensi donor di Jenewa pada 1 November 2025. Keterlibatan tokoh yang memiliki pengaruh besar di regional ini menunjukkan bahwa dalam diplomasi Timur Tengah yang rumit, faktor personal dan leverage politik terkadang lebih efektif dibandingkan pendekatan multilateral tradisional, meskipun risiko politik yang menyertainya juga tinggi.
