Keramaian dan kepadatan menjadi dua hal yang melekat pada suasana Pasar Tradisional. Sayangnya, kondisi ini juga dimanfaatkan para pencopet ulung yang beraksi dengan teknik “senggol maut”. Modus ini seringkali tidak disadari korban karena perhatian mereka terfokus pada kegiatan tawar-menawar atau memilih barang. Warga diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.
Para pelaku copet ini bekerja secara berkelompok dan terorganisasi. Satu orang bertugas sebagai pengalih perhatian, sementara yang lain bertugas mengeksekusi aksi pencopetan. Mereka mengincar pengunjung yang membawa tas di bagian belakang atau menaruh dompet di saku yang mudah dijangkau. Keahlian mereka dalam bergerak licin sulit terdeteksi mata telanjang.
Salah satu lokasi paling rawan adalah area penjualan emas dan lapak kebutuhan pokok yang selalu dipadati pengunjung. Di tempat-tempat ini, kontak fisik antar pengunjung sangat mungkin terjadi, sehingga teknik senggol maut para copet berjalan mulus. Pengelola Pasar Tradisional diminta memasang lebih banyak papan peringatan.
Masyarakat yang berkunjung ke Pasar Tradisional dianjurkan untuk membawa tas yang digunakan dengan cara menyilang di depan tubuh. Ini mempersulit copet untuk mengakses barang bawaan. Selain itu, hindari membawa uang tunai dalam jumlah besar dan pisahkan dompet dari kartu identitas. Pencegahan mandiri sangatlah penting saat berada di kerumunan.
Pihak keamanan pasar dan kepolisian secara rutin melakukan patroli dan penyamaran untuk memberantas praktik pencopetan ini. Beberapa pelaku telah berhasil ditangkap, namun jaringan ini terus beregenerasi. Diperlukan kerja sama aktif dari pengunjung untuk segera melapor jika melihat gerak-gerik orang yang mencurigakan di area pasar.
Teknik “senggol maut” memanfaatkan insting alami manusia untuk cepat meminta maaf atau mengabaikan senggolan minor. Saat korban teralihkan oleh senggolan, di saat itulah barang berharga mereka berpindah tangan. Kejahatan ini merusak pengalaman berbelanja di Pasar Tradisional yang seharusnya menyenangkan dan nyaman.
Inovasi teknologi seperti pemasangan CCTV di sudut-sudut pasar mulai diimplementasikan. Harapannya, rekaman kamera dapat membantu identifikasi pelaku dan memulihkan rasa aman. Namun, peran aktif komunitas pedagang dan pengunjung tetap menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan pasar.
Meskipun rawan copet, Pasar Tradisional tetap menjadi jantung perekonomian rakyat. Dengan adanya peningkatan kewaspadaan kolektif dan langkah keamanan yang ditingkatkan, diharapkan pengunjung dapat berbelanja tanpa rasa takut lagi. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan pasar yang bebas dari aksi copet “senggol maut”.
